[CERPEN] Ajari Aku Mencintaimu, Aksara

cerpen remaja


Ajari Aku Mencintaimu, Aksara
oleh Lia Wardhani

Sebuah ponsel tiba-tiba berdering di suatu malam yang dingin. Seketika wanita berambut pendek itu mengangkatnya dengan antusias setelah mendapati nama ayahnya tertera di layar. Seusai saling menanyakan kabar, ayahnya itu kemudian bercerita, tadi pagi dia menemukan cerpen anak gadisnya itu dimuat di salah satu koran nasional yang terbit sehari sebelumnya. Hari Minggu. Katanya seluruh rekan kerjanya memuji karya Saras seharian ini.

"Saras, Ayah bangga padamu, Nak." Sebuah kata sederhana yang tak pernah Saras sangka akan Ayah hadiahkan padanya. Tak terasa, air matanya menetes. Terharu.

Ini semua berkat cinta ....

***

Saras terbiasa sarapan pagi ditemani Prabu Revolusi. Tentu saja, hanya dari layar duapuluh satu inch. Sudah sejak lama Saras mengagumi presenter berita itu, dan berharap bisa mengikuti jejaknya. Tetapi kondisi fisiknya memaksanya mengubur mimpi itu dalam-dalam. Dia tak mungkin dapat menjadi presenter berita, karena berjalan saja dia tak bisa. Dia hanya mampu merangkak seperti bayi, sebab dia adalah penyandang Cerebral Palsy. Terlebih sarat utama menjadi presenter berita adalah lulusan S1. Padahal, duduk di bangku TK saja dia belum pernah. Ada banyak penyebab. Mulai dari tempat tinggal yang berpindah-pindah, lokasi sekolah SLB yang jauh dari rumah, sampai pemikiran kolot Ayah, "Untuk apa sekolah? Kesuksesan tak ditentukan oleh tingkat pendidikan. Toh, banyak sarjana-sarjana yang kini justru menganggur."

Kalau sudah begitu dia lebih memilih bungkam. Percuma mendebat ayahnya yang punya kepala batu. Terlebih, sejak kecil dirinya termasuk orang yang tak suka berdebat. Lebih suka menyimpan pendapatnya, meskipun dia merasa benar.

Lagi pula ada banyak untungnya juga tidak bersekolah, pikirnya dulu kala masih bocah. Dia bebas dari jeratan tugas rumah yang selalu dikeluhkan teman-teman sepermainannya. Bebas dari kewajiban bangun pagi, dandan rapi, dan semacamnya. Dia juga jadi lebih akrab pada ibu dan ayahnya ketimbang teman-temannya, karena akan ada banyak waktu untuk bersama, dan membahas banyak hal dengan mereka.

"Yah, arti humaniora itu apa sih?" tanyanya suatu ketika, saat mendengar kata asing itu disebutkan oleh presenter idolanya. Kalau sudah begitu, ayah pasti akan menjelaskannya dengan penuh semangat. Layaknya seorang guru. Membuat Saras antusias mendengarkannya.

Namun itu dulu, ketika ia masih bocah. Setelah mulai beranjak remaja, Saras mulai mengerti betapa pentingnya pendidikan. Setidaknya, untuk dirinya sendiri. Dia pikir, seandainya dirinya dulu bersekolah mungkin saat ini ia memiliki banyak teman, berwawasan luas, dan berkesempatan memiliki pekerjaan yang layak, seperti beberapa sosok difabel sukses yang belakangan ini sering muncul di televisi. Namun, Saras sadar penyesalan tak akan mampu memutar waktu kembali. Bahkan meski hanya sedetik.

***

Sejak kecil Saras suka berkhayal. Bukan sebatas membayangkan kehidupannya di masa depan, dia terkadang juga membayangkan jalan hidup orang lain. Terutama, sehabis dia menyaksikan sinetron atau film yang jalan ceritanya tak sesuai harapannya. Mungkin dia cocok menjadi seorang penulis novel, cerpen atau dongeng, agar hobinya tidak sia-sia. Pikirnya. Perlahan, dia mulai berusaha untuk mencintai aksara.

Setiap pagi dia merangkak sembari menyeret buku tulis dan pena dari kamarnya untuk digunakannya menulis di kamar kedua adik lelakinya. Dia senang menulis sembari duduk di dekat jendela kamar mereka, sebab jendela di kamarnya sendiri tak dapat memberi kesejukan dan cahaya, saking terlalu dempetnya dengan tembok rumah tetangga. Saras tetap bersemangat walau harus menulis dengan cara yang tak biasa. Tak hanya tangan kanan yang dia andalkan, dia juga butuh bantuan dagunya. Itu sebabnya dia tampak sangat merunduk ketika sedang menulis.
"Ealah Nduk, kamu itu nulis apa tidur?" komentar Ibu, yang seringkali terpaksa dia anggap angin lalu. Mau bagaimana lagi, memang kondisilah yang mengharuskannya begini.
Awalnya, semua tak semudah yang ia bayangkan. Ternyata menuangkan isi kepala ke selembar kertas putih itu sulit. Sebab dia jarang sekali mendapatkan kesempatan membaca novel, sehingga dia kesulitan merangkai kata. Namun itu tak membuatnya menyerah. Dia terus berusaha sebisanya

Dalam sehari Saras hanya mampu menulisi satu halaman buku tulis, bukan karena malas, tetapi karena tangan dan dagunya mudah lelah dan kaku. Jika sudah begitu, tulisannya semakin tak karuan dan sulit dibaca. Jadi percuma saja memaksakan. Toh, apa gunanya sebuah tulisan bila dibaca oleh penulisnya sendiri saja tak bisa?

Kesulitan ternyata bukan hanya dialami Saras ketika mengarang, lalu mencari dan merangkai kata yang tepat, dan kemudian menuliskannya. Saat karyanya sudah jadi dia tak lantas mendapatkan hasilnya. Saat itu dia belum mengerti harus diapakan karyanya itu.

"Bu, cara mengirimkan cerpen ke majalah gimana ya?"

"Ah, entahlah Nduk.". Jawaban itu seolah mencerminkan Ibu tak tahu, sekaligus tak mau membantunya mencari tahu. Semangatnya seketika padam. Tiada lagi yang bisa diandalkannya selain Ibu. Karena ketika itu dia tak punya teman. Sebab sejak remaja teman-temannya mulai menjauh. Sibuk dengan urusannya masing-masing.

Namun, pagi harinya dia berusaha bangkit kembali. Dia simpan karyanya baik-baik, lalu menulis lagi sembari berharap keajaiban. Tetapi seminggu berlalu, yang hadir bukanlah keajaiban. Melainkan sebuah ujian. Karya yang disimpannya dirobek kedua adik-adiknya yang masih kecil. Dia hanya bisa menangis.

"Halah, Cuma kayak gitu saja ditangisi segala." Hatinya semakin teriris mendengar komentar ibunya. Semua usahanya sia-sia. Hancur tak bersisa. Bahkan dianggap tak berharga. Sejak itu, Saras mulai enggan merajut aksara kembali. Dia lebih sering menghabiskan waktu luangnya menonton televisi, melamun, atau tiduran. Hanya itu yang bisa dia lakukan.

Namun semua berubah sejak dia mengenal Nindi dari Facebook, tak lama setelah ayahnya membelikannya ponsel yang dapat digunakan mengakses internet sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke dua puluh. Gadis yang ramah dan baik hati itu seringkali memposting karyanya di Note Facebook. Saras jadi tergoda menyelami dunia literasi kembali saat membaca karya-karya Nindi. Nindi bahkan mengajaknya bergabung di sebuah Grup kepenulisan di Facebook, dan memperkenalkannya pada teman-temannya, penulis maya. Sejak itu Saras menjadi rajin belajar menulis lagi. Dari teman-teman barunya Saras mengerti, jika menjadi penulis yang sukses itu tak semudah yang dia kira selama ini. Butuh ketelitian, butuh kepekaan, butuh kesungguhan, dan butuh mental baja.

Saras sempat putus asa ketika Nindi bilang penulis yang baik harus paham EYD, tanda baca, dan sebagainya. Awalnya dia tak mengerti bagaimana cara mempelajarinya, membuat penyesalannya karena dia tak pernah bersekolah itu hadir kembali. Namun, dia berusaha keras menepis sesal dan mengabaikan keinginan menyerah. Dia belajar lebih teliti. Mulai mempelajari EYD lewat tulisan teman-teman penulis dunia maya yang dipublikasikan di Facebook. Sejak itu dia menjuluki dirinya sendiri: The Stalker. Dia juga sempat down ketika tulisan yang dipublikasikannya menuai banyak kritikan. Mulai dari ending-nya terlalu cepat, kurang dapat feel-nya, diksinya kurang variatif, dan sebagainya. Dia sempat malas menulis lagi, merasa tak berbakat di bidang ini. Namun tak lama kemudian dia mencoba lagi. Tak ada pilihan, pikirnya. Jika tidak menulis dia hanya akan jadi pengangguran. Dan, semua khayalan dan ide-ide di kepalanya hanya akan jadi sesuatu yang tak bermakna. Maka dia pun menulis lagi.

Dia kemudian mencoba menantang dirinya sendiri menulis novel. Walau hanya mengandalkan sebuah ponsel yang cuma bisa mengetik lima ribu karakter, dan fitur note di Facebook, tetapi Saras begitu bersemangat mengerjakannya. Tiap pagi Saras mengerjakan satu bab. Selalu ada godaan dan rintangan menghadang. Mulai dari adik-adiknya yang merengek minta dipinjami ponsel sekedar untuk mainan, akses internet yang lambat hingga menyulitkannya mengupload tulisan ke note Facebook, suara-suara bising yang mengganggu konsentrasinya, hingga sapaan dari seorang pria pemilik senyum manis di Facebook yang sempat menyita perhatian dan waktunya. Namun Saras akhirnya dapat bernapas lega, ketika kemudian berhasil menuliskan kata: SELESAI. Tetapi perjuangannya ternyata belum selesai begitu saja.

"Novelmu masih banyak kekurangan, butuh pendalaman riset lagi," ucap sang editor.

Iya, benar. Karyanya saat itu memang masih banyak kurangnya. Dia hanya menghayalkan semuanya, belum pernah mengalaminya, dan tak pernah bertanya pada yang pernah mengalaminya. Novel itu bercerita tentang kisah cinta yang berakhir bahagia. Yang dialaminya justru sebaliknya. Kisah itu juga berlokasi di Semarang. Padahal, rumahnya sekarang di Pasuruan. Dia akhirnya meminta diantarkan kedua orangtuanya ke Semarang, ke rumah sepupunya, untuk benar-benar menyelami kisah Leli, tokoh utama dalam novel yang ditulisnya. Dan, akhirnya keajaiban yang selama bertahun-tahun dinantinya sungguh terjadi. Setelah melihat kesungguhannya selama ini kedua orangtuanya akhirnya mendukung apapun langkahnya.
***

Mungkin benar kata pepatah Jawa: Tresno Jalaran Soko Kulino. Kini aku begitu mencintai Aksara. Sehari tak membaca, aku merasa hampa. Seminggu tak menulis, aku jadi ingin menangis. Aku selalu merindukannya.

"Kok diam? Bagaimana kabar novelmu, Nduk?"

"Sudah jadi, sudah bagus kata editorku, dan sudah di-acc sama penerbit. Doain ya, Yah?"


----- SELESAI ----- 

Ungaran, 09, Maret, 2015
Karya: Lia Wardhani
Facebook: Lia Wardhani
Twitter: @liawardha

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "[CERPEN] Ajari Aku Mencintaimu, Aksara"

Post a Comment