[CERPEN] Gardenia Flower

Gardenia Flower
oleh Lia Wardhani

Bunga itu menjadi pembangkit sebuah  kenangan. Gardenia flower, dalam bahasa Inggris. Kembang ceplok piring, begitu warga dusun Tegal Geneng—tempatku menghabiskan masa kecilku dulu—menyebutnya. Atau dalam bahasa Indonesia bernama bunga kaca piring.

Pagi ini aku sedang duduk di teras, menghadapi layar laptop yang berada di atas meja. Dilengkapi secangkir cappucino di sampingnya, dan setoples kue kering buatanku—dengan banyak bantuan dari Bik Darsih tentunya. Mendadak suamiku yang baru saja datang dari luar kota, membawakanku satu pot tanamanan yang sedang berbunga.

"Bunga gardenia, Sayang ...," jawabnya, usai kutanyai. Tumben sekali dia melakukan semua ini. Membawakanku bunga, bahkan memanggilku sayang.

Aku seorang wanita penyuka drama sekaligus penulis novel romantis, yang justru terdampar ditakdirkan menjadi istri seorang pria yang tidak romantis. Namun selama ini aku tetap begitu bahagia. Karena aku yang telah memilihnya, dan memang sangat menyayanginya.

Bukannya tersenyum sumringah, atau terlonjak gembira, aku malah menangis. Namun, bukan menangis haru sebab sikapnya yang mendadak jadi manis, yang mungkin dikarenakan kini aku mulai mengandung darah dagingnya. Bunga indah nan wangi itu mendadak menyeretku pada kenangan di masa lalu. Tentang seseorang.

***

"Syifa, Mas Damar ada?" tanya sesosok gadis yang masih mengenakan seragam putih biru, menyembulkan kepalanya dari luar jendela. Aku yang tadinya sedang duduk santai di atas kasur lantai di depan televisi, sambil melihat-lihat majalah anak-anak, menjadi terlonjak kaget karenanya. Aku mengenalinya sebagai teman akrab Mas Damar sejak kecil, baik di sekolah maupun di rumah. Rumahnya tepat di sebelah rumah Kakek dan Nenek ini.

"Eh Mbak Ris. Mas Damar-nya masih tidur di kamar," jawabku, menoleh sembari tersenyum. Kakak sepupuku itu memang sedang tak enak badan hari ini. Panas demamnya tinggi sekali.
"Ooh ... Mbak mau bawain buku PR yang kemaren dikumpulin, tadi dibagiin lagi sama Bu Guru. Karena Mas Damar nggak masuk, dititipkan ke Mbak Risma deh." Sembari mengulurkan buku tulis itu, Mbak Risma menjelaskan. "Kamu lagi ngapain?"

"Baca ini," jawabku santai, seraya meletakkan majalah anak itu, lalu merangkak pelan mendekati jendela. Aku berpegang erat pada tembok agar dapat sedikit berdiri dan mampu menggapai jendela yang agak tinggi, dan meraih buku itu.
"Memangnya, kamu bisa membaca Syif?"
Aku menggeleng. Lalu cemberut. "Cuma lihat-lihatin gambar sih."

"Tunggu ya? Mbak Risma pulang dulu, nanti balik lagi ngajarin kamu," janjinya. Aku mengangguk.
Lima belas menit kemudian, Mbak Risma telah kembali dengan pakaian bermainnya. Kaus kuning yang warnanya mulai memudar, dan rok bunga-bunga putih kuning kecil selutut. Meski ayahnya seorang kepala desa, tetapi kedua orangtuanya selalu mendidik anak-anaknya untuk hidup sederhana dan bersahaja. Pintu ruang tamu tak terkunci, sehingga dia bisa masuk dengan mudah. Aku senang sekali dengan kedatangannnya, yang membuatku tak lagi sendirian di ruangan ini. Mas Damar sedang tidur di kamarnya, ditemani Kakek. Sementara Nenek tadi pamit padaku akan pergi mencari kayu bakar di kebun belakang rumah.

"Yuk, Mbak Risma ajarin!" ajaknya, antusias.
Mengingat usiaku saat itu mestinya aku sudah pandai membaca, layaknya anak-anak lain seusiaku. Namun penyakit polio yang merengut kemampuan kakiku untuk melangkah, membuatku tak mendapat kesempatan untuk bersekolah. Sepanjang hari aku hanya berada di rumah.
Kami belajar hingga menjelang petang hari. Dia memujiku karena cepat sekali mengerti. "Ini, Mbak Risma kasih hadiah karena udah cepat ngerti."

"Bunga apa ini?" tanyaku, polos.
"Warga sini menyebutnya kembang ceplok piring, bahasa Indonesianya bunga kaca piring, dan bahasa Inggrisnya adalah Gardenia Flower." Dia menjelaskan dengan sangat lengkap. "Ini Mbak Risma petik dari halaman depan rumah."
"Hmm .... Wangi. Cantik lagi."
"Besok Mbak Risma bawain lagi ya? Tapi kamu harus semangat belajarnya." Aku mengangguk berulang kali. Saking senang dan semangatnya.

***
Seminggu berlalu. Hari ini Mas Damar sudah mulai sembuh. Dan, aku sudah lancar membaca sendiri. Nenek, Kakek, dan Mas Damar yang sedang duduk bersamaku di ruang televisi, bertepuk tangan usai mendengarku membacakan salah satu cerpen di majalah anak-anak pemberian dari saudara Nenek yang tinggal di Surabaya. Nenek menghambur ke arahku, memeluk dan menciumku. Bangga.
Sayang, Mbak Risma tak ada sore ini. Kabarnya, hari ini dia dan keluarganya sedang kedatangan tamu, saudaranya dari pulau seberang. Sehingga dia tak bisa datang ke mari.

***
Awan gelap mendadak menyelimuti langit. Sore itu aku hanya bisa terdiam menatap pemandangan yang menyayat hati, dari jendela ruang televisi. Di luar terlihat para warga desa berkumpul mengelilingi Bu Lurah yang sedang meraung-raung menangisi kepergian putrinya di tengah jalanan desa. Dalam pelukan ibunya tampak olehku Mbak Risma telah menutup mata, dan tubuhnya pun telah terbujur kaku. Tak berdaya. Aku tertunduk sedih.

Nenek berlari menuju Mas Damar yang baru saja pulang dari sungai. Beliau memeluk cucunya itu erat-erat. Sepersekian detik kemudian Mas Damar menangis, merutuki dirinya yang hanya bisa mematung tak berdaya menyaksikan sahabatnya tenggelam di sungai.

Kepergian Mbak Risma menyisakan penyesalan di hati sahabat-sahabatnya yang ikut berenang di sungai sore itu. Serta kesedihan yang dalam di jiwa keluarganya. Dan tanda tanya besar di benak seluruh warga desa.

Desas-desus warga mengatakan kematian Mbak Risma tidak wajar. Ada kekuatan gaib di sana yang ikut berperan. Dengan bukti-bukti beberapa kejanggalan.

"Aneh lho, padahal kali ne cetek.*" Sayup-sayup terdengar komentar salah satu warga. "Musim ketigo maneh saiki.**"

"Luweh aneh meneh. Jare anakku, kabeh koncone sikile koyo dipatok, raiso melayu nulungi,***" imbuh warga lainnya.

***

Setelah semua kenangan tentangnya telah kuceritakan, aku menangis dalam pelukan suamiku.

“Sudahlah honey. Kita doakan saja dia agar tenang di alam sana ...”

----- SELESAI ----- 

Ungaran, 11-06-2015
Karya: Lia Wardhani
Facebook: Lia Wardhani
Twitter: @liawardha

*Sungainya dangkal
**Musim kemarau pula kini
***Lebih aneh lagi. Kata anakku kaki teman-temannya seolah terjerat sesuatu. Tak bisa lari menolong.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "[CERPEN] Gardenia Flower"

Post a Comment