Simak Yuk!! Cerita Liburan Terbaik

Cerpen Lucu Liburan Karya: Lia Wardhani

"Lezatnya Kue Kadaluarsa”
07 Februari 2015

gambar-dp-bbm-cerita-liburan-lucu-ampe-nangis
Di akhir semester, para mahasiswa biasanya mendapatkan liburan yang lumayan lama, sebelum kemudian menghadapi semester baru. Lamanya masa libur bervariasi, tergantung kebijakan di kampusnya masing-masing. Untuk aku dan Ayu, adik sepupuku yang sama-sama kuliah di Universitas negeri, kami memiliki waktu liburan selama dua bulan. Bedanya, Ayu kuliah di Universitas yang cukup bergengsi di Jogjakarta. Sedangkan aku di Surabaya.

Namun, nasib baik tidak berpihak pada Safitri, saudara sepupu kami. Dia yang berkuliah di Politeknik, di Semarang itu harus menerima kenyataan jika masa liburan yang diterimanya hanya satu bulan.

So, kami pun bersepakat menghabiskan liburan bersama di rumah keluarga Safitri, di Ungaran. Untuk menikmati kebersamaan, selayaknya dulu saat kami masih bocah dan belum disibukkan dengan kegiatan padat masing-masing. Sekaligus menghibur dan mempermudah Safitri.

"Kasihan kan Kak, kalau dia yang masa liburannya dikit malah harus pergi jauh-jauh demi kita? Pasti capek," ucap Ayu, via telepon. Beberapa malam yang lalu. Jadinya, aku pun menyetujui pendapatnya.
Aku berangkat dari stasiun Pasar Turi Surabaya sekitar pukul: 06:00, dengan diantarkan Mas Rahman, kekasihku. Rencananya, aku akan naik kereta Maharani untuk menuju ke Semarang. Meski masih pagi suasana di sini sudah cukup ramai.

"Dek, berapa lama kamu di sana?" tanyanya, dengan suara berat dan tampak lesu. Entah karena masih mengantuk, sebab harus mengantarkanku sepagi ini. Atau jangan-jangan ... Ah, lupakan! Aku tak boleh kegeeran.

"Mungkin sekitar tiga mingguan Mas," jawabku, sembari duduk di sampingnya, di atas bangku tempat menunggu kedatangan kereta.

"Hah? Tiga minggu?" Aku dibuat terkejut mendengar reaksinya. Wajar saja dia seolah membentak. "Jangan lama-lamalah Dek ...," lanjutnya, yang mendadak terdengar lembut dan manja.
Aku mengalihkan pandangan padanya. Menatapnya penuh perhatian, dan menyandarkan dagu di atas tangan kanan. "Ada apakah denganmu yang biasanya punya sikap cuek nggak ketulungan itu Mas?"
"Itu keretanya sudah datang. Ayo buruan kita angkatin koper-kopermu yang berat ini!" Ah, kebiasaan! Setiap kali tanpa sadar dirinya telah bersikap aneh, dia buru-buru mengelak.

***

Sekitar pukul 11:30, aku akhirnya tiba di depan sebuah rumah yang berada di atas perbukitan kecil. Ada sekitar belasan tangga yang harus kupijak, sebelum sampai di teras rumah yang berlantaikan keramik bermotif abstrak. Setibanya di teras aku memencet bel rumah.

"Kak Amel?" Seorang gadis berambut panjang yang dikucir seadanya seketika muncul dari balik pintu yang baru saja dibukanya.

"Kejutaaan ...!" Aku menghambur memelukknya, tetapi dia memberontak.
"Ih, Kakak, aku belum mandi lho!" Seketika aku melepaskannya, saat menyadari kedua lubang hidungku telah menghirup aroma-aroma kurang sedap. Lalu berdecak-decak. Kebiasaan memang adik sepupuku yang satu ini, kalau liburan hobinya tidur melulu.

"Di rumah sepi?" tanyaku seraya menyeret koper dan mengikuti langkahnya memasuki rumah.
"Iya nih. Bapak masih kerja, Ibu masih ngajar, dan Ara masih sekolah." Hmm ... Memang jadwal liburan anak kuliahan dengan pekerja kantoran, guru TK, dan bocah SMP itu berbeda. Tepatlah kalau aku dan Ayu janjian liburan di sini. Agar kita bertiga tak merasa kesepian liburan sendiri di rumah.
Oh, iya! Ayu kok belum datang? Sms dia dulu ah ....

***

Pagi ini udara di Ungaran begitu dingin, membuatku enggan untuk bangun pagi seperti yang biasa kulakukan di kos-kosan, atau pun saat liburan di rumah keluargaku di Pasuruan. Tadi, aku hanya bangun sebentar melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim selepas mendengar suara azan. Lalu kemudian aku menyelimuti tubuh ini, dan kembali terlelap.

"Hahaha ...! Yang benar Kak?"
“Beneran."
"Hahaha ...! Itu konyol sekali." Suara tawa kedua adik sepupuku membangunkanku dari tidur lelap. Merusak mimpi-mimpi indahku.

"Eh, gimana kalau hari ini kita jalan-jalan?" usul Ayu, yang kudengar samar-samar ketika aku mengangkat selimut tinggi-tinggi hingga menutupi kepalaku.
"Males ..., nggak pengin ke mana-mana," sahut Safitri.
"Bikin kue aja yuk!" ajakku, yang mendadak menyingkap selimut. Mungkin efek lapar, yang ada pikirkan ini jadi makanan saja.

"Nah, ide bagus tuh! Kak Safitri kan pintar bikin kue. Ajarin kita-kita dong ...."
"Kita? Kamu saja Yu. Aku bagian makan saja," ucapku, usil.
"Huuu ... Dasar!" cibir mereka, bersamaan.

Dari pagi hingga sore rencana untuk membuat kue belum juga terlaksana, sebab kami harus mutar-muter mencari alat-alat untuk membuat kue yang disimpan terpencar di rumah ini. Dan, parahnya lagi saat sudah ditemukan, ternyata banyak alat-alat yang keadaannya kotor. Beberapa loyang berdebu. Mixer malah dijadikan sarang semut. Bahkan oven penuh dengan kotoran tikus. Jadi kami butuh banyak waktu untuk membersihkannya hingga benda-benda itu layak untuk dipakai.

"Semua siap!" Akhirnya kami bertiga dapat bernapas lega tepat pukul 16:00. Kita bersiap di ruang tengah, duduk melingkari bahan-bahan dan alat-alat yang akan kita gunakan.
Ayu mulai meraih sekotak bahan kue yang telah dikemas dan ditakar oleh pabrik yang memproduksinya, sehingga kami nanti tinggal mencampur bahan-bahan dan mematangkannya sesuai aturan yang tertulis di kardusnya.

"Kak, ini sudah kadaluarsa deh. Kan ini tulisannya best before Januari 2015. Sekarang kan sudah Februari," ucap Ayu, tampak khawatir.
"Halah nggak papa. Anggap saja itu vitamin. Hahaha ...." Dan kami pun tertawa bersama-sama.
Ayu memasukkan semua bahan dengan teliti, sedangkan Safitri memberi perintah dan membacakan resep. Sementara aku hanya melihat-lihat saja. Hehe ....

Satu jam kemudian kue buatan kami pun jadi. Awalnya, aku agak ragu untuk mencobanya. Aku masih teringat ucapan Ayu tadi, jika bahan-bahan kue ini sebenarnya telah kadaluarsa. Tetapi apalah daya, aku tergoda oleh wangi aroma dan penampilan kue Tiramishu di hadapanku ini. Aku pun mencoleknya sedikit.

"Hmm ... Ternyata kue kadaluarsa enak juga. Hahaha ...." Dan kami bertiga pun tertawa bersama. Ini adalah pengalaman unik dan lucu yang akan kukenang selamanya.
Apapun kuenya dan bagaimana rasanya, tak begitu penting. Selama kita bisa tertawa bersama-sama.

Selesai ....

Pencarian: Cerita Lucu Liburan, cerpen lucu bergambar, cerpen lucu pendek, cerpen lucu panjang, cerpen lucu terbaru, kumpulan cerpen lucu, kumpulan cerpen lucu remaja, cerpen lucu banget, kumpulan cerpen lucu dan gokil.

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Simak Yuk!! Cerita Liburan Terbaik"